SEKILAS RANTAU LIMAU MANIS

Desa Rantau Limau Manis berada di Kecamatan Tabir Ilir Kabupaten Merangin Jambi. Desa ini terletak antara 10.20 – 10.40 BT dan antara 20 – 30 LS dengan luas wilayah 4,3 Km2 dan ketinggiannya berkisar 150 m di atas permukaan laut. Desa ini adalah ibu kota Kecamatan Tabir Ilir yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Tabir, hal ini menjadikan desa ini sebagai wilayah yang sangat strategis, baik secara ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Adapun batas-batas wilayah desa ini yaitu: Utara berbatasan dengan Desa Kota Raja Kec. Tabir Ilir Selatan berbatasan dengan Desa Simpang Limau Manis Kec. Tabir Ilir dan Desa Bukit Subur Kec. Tabir Timur Barat berbatasan dengan Desa Tunggul Bulin Kec. Tabir Ilir Timur berbatasan dengan Desa Sungai Limau Kec. Tabir Timur Desa Rantau Limau Manis termasuk kategori daerah terpencil atau pelosok, karena lokasinya yang jauh dari pusat kota, baik dari ibu kota propinsi (Jambi) maupun ibu kota kabupaten (Bangko). Untuk menjangkau desa yang dikelilingi oleh sejumlah areal perkebunan ini, maka dapat memanfaatkan angkutan darat dari kota Jambi dengan jarak tempuh sembilan jam untuk ukuran normal. Desa Rantau Limau Manis yang menjadi lokasi penelitian ini terletak di pinggiran sungai Tabir yang bersumber dari Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci-Jambi, dan bermuara di Sungai Batanghari yang merupakan salah satu sungai terbesar di Sumatera. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masyarakat desa ini, dan juga hampir sebagian besar desa yang ada di Propinsi Jambi, merupakan masyarakat sungai, karena sejak dahulu aktivitas masyarakatnya banyak menggunakan sarana sungai sebagaimana yang umumnya juga banyak dijumpai di hampir sebagian besar wilayah pulau Sumatera. Desa Rantau Limau Manis dapat dikategorikan sebagai wilayah desa dengan jumlah penduduk yang relatif besar jika dibandingkan dengan wilayah lainnya yang ada dalam Kabupaten Merangin. Angka kelahiran dan kematian berbanding terbalik yang berarti bahwa tingkat kelahiran sangat tinggi jika dibandingkan angka kematian. Kenyataan ini makin dikuatkan dengan adanya anggapan yang sudah mendarah daging di tengah masyarakat bahwa banyak anak banyak rezeki. Hal ini berarti secara tidak langsung memotivasi masyarakat untuk memiliki keturunan sebanyak-banyaknya. Dengan ini dapat dipastikan bahwa setiap keluarga minimal memiliki tiga orang anak, padahal hampir setiap datangnya lebaran haji akan ada minimal tiga pasang remaja yang melangsungkan pernikahan. Data statistik hingga Agustus 2002 yang ada di kantor desa setempat mengungkapkan bahwa jumlah penduduk Desa Rantau Limau Manis saat itu adalah 3.830 jiwa. Jumlah ini diyakini akan terus bertambah seiring dengan terus berlangsungnya pernikahan di tengah masyarakat sejalan dengan terus meningkatnya angka kesiapan usia pernikahan di kalangan remaja. Realitas ini mungkin akan bertambah lagi dengan kian banyaknya pendatang yang menetap dan menjadi warga desa setiap waktu seiring dengan meningkatnya jumlah lapangan kerja yang tersedia 1. Sejarah Berdiri Menurut penuturan beberapa pemuka masyarakat yang terdiri dari tetua adat setempat, desa ini telah terbentuk jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda. Pada awalnya, pemukiman penduduk desa ini berada di wilayah Dusun Tunggul Bulin (kini Desa Tunggul Bulin) yang merupakan cikal bakal terbentuknya Desa Rantau Limau Manis. Bahkan pada awalnya, wilayah desa mencakup beberapa wilayah desa sekitar yang ada sekarang. Para pemukimnya pun terdiri dari satu keturunan atau masih bersaudara yang terikat satu dengan yang lainnya. Baru kemudian setelah berdatangan para pendatang dari bermacam-macam daerah yang kemudian membentuk komunitas sendiri dan akhirnya membentuk wilayah tersendiri. Orang-orang yang datang dari belantara timur desa ini, tepatnya wilayah peladangan Muara Teleh, kemudian membentuk pemukiman di bagian barat desa ini hingga menjadi Desa Ulak Makam. Sedangkan para pendatang membuka beragam pemukiman baru di sekitar desa ini. Misalnya, komunitas transmigran yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa atas prakarsa dan fasilitas pemerintah membuka pemukiman baru di wilayah timur, utara dan selatan desa. Pemukiman-pemukiman baru ini kemudian membentuk bermacam-macam unit transmigrasi yang selanjutnya menjelma menjadi desa-desa baru yang berdiri sendiri. Adapun orang-orang yang berasal dari Palembang, Padang, Kerinci dan Medan biasanya hanya pendatang musiman yang hanya pada beberapa perkebunan yang ada di desa ini. Meskipun demikian, terdapat beberapa orang di antara mereka yang kemudian menetap di desa ini karena telah mendapatkan pekerjaan yang tetap atau menikah dengan penduduk setempat. 2. Sistem Kepercayaan Seperti umumnya orang-orang Melayu yang merupakan bagian terbesar penduduk desa ini, mayoritas masyarakat desa ini adalah pemeluk agama Islam. Beragam tradisi keislaman tak asing lagi bagi mereka, karena telah ada sejak zaman nenek moyang mereka dahulu. Namun intensivnya pengajaran agama Islam dimulai pada sekitar abad ke 18, dengan bukti pengajian yang lebih besar dibuka pada masa itu oleh seorang ulama bernama Imam Mukoh. Seperti masyarakat pemeluk Islam lainnya, beragam aktivitas keagamaan senantiasa mereka jalani, seperti shalat lima waktu, shalat jumat, puasa Ramadhan dan ibadah haji. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tatanan sosial-kemasyarakatan yang berlaku di desa ini adalah berlandaskan ajaran Islam, meskipun juga diakui masih terdapat secuil kepercayaan animisme yang masih melekat di tengah sebagian kecil masyarakat. Karena begitu kuatnya ajaran Islam tertanam di tengah-tengah masyarakat, hampir dipastikan bahwa setiap warga di desa ini dapat memahami ajaran Islam dan bisa membaca al-Qur’an. Realitas ini karena sejak kecil mereka memang melakukannya sebagai rutinitas. Pengajian-pengajian dan perlombaan-perlombaan keagamaan pun sering lakukan untuk lebih mendekatkan masyarakat akan ajaran Islam. Beragam aktivitas peribadatan yang dilaksanakan oleh masyarakat desa ini dipusatkan di masjid yang cukup besar dan telah berumur puluhan tahun. Segala kegiatan keagamaan yang berskala besar dilakukan di sini, seperti ibadah shalat Jumat dan shalat Ied. Shalat Tharawih dan tadarusan pada bulan Ramadhan juga dilaksanakan di masjid di samping juga di mushalla-mushalla yang ada, sedangkan kegiatan keagamaan yang berskala kecil, seperti Yasinan setiap malam Jumat, biasanya dilaksanakan di rumah-rumah penduduk secara bergiliran pada masing-masing RT. Bahkan, dengan alasan efisiensi dan efektivitas, penyuluhan dan pengumuman yang berkaitan dengan pemerintahan desa juga dilaksanakan di masjid desa. 3. Keadaan Pendidikan Pada zaman dahulu sektor pendidikan menjadi agenda yang tidak diutamakan bagi mayoritas masyarakat di desa ini. Hal ini berdampak pada rendahnya jumlah masyarakat yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dari data statistik sebelum tahun 1990 yang terdapat di balai desa terlihat bahwa mayoritas masyarakat hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, bahkan lebih setengahnya tidak berhasil menamatkan pendidikannya. Hanya segelintir di antara mereka yang kemudian melanjutkan ke jenjang lanjutan, seperti SLTP dan SLTA. Lebih jauh lagi, data tersebut mengungkapkan bahwa hanya lima puluh orang di antara mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana, tetapi hanya setengah di antara mereka yang berhasil menggondol gelar sarjana dari berbagai perguruan tinggi. Bagi masyarakat desa ini, pendidikan dalam pemahaman mereka hanya terbatas bagaimana bisa membaca, menulis dan berhitung. Atau, paling tidak jika dikaitkan dengan jenjang pendidikan, maka bagi mereka pendidikan cukup hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Setelah itu, anak-anak yang laki-laki dipersilahkan bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhannya dan anak perempuan segera dicarikan jodohnya. Realitas ini terjadi bukan disebabkan minimnya sarana pendidikan yang ada di desa ini atau karena tingkat ekonomi yang rendah, tapi lebih kepada motivasi dan apresiasi yang rendah terhadap pendidikan. Secara khusus diketahui memang sarana-sarana pendidikan yang ada di desa ini masih terbatas pada tingkat dasar. Meskipun demikian, sejak sepuluh tahun yang lalu pemerintah telah mendirikan sarana pendidikan lanjutan (SLTP) di desa tetangga (Desa Ulak Makam) yang berjarak sekitar dua kilo meter dari desa ini. Begitu juga dengan sarana-sarana pendidikan yang banyak tersebar di sekitar desa ini, seperti di kecamatan dan kabupaten. Coba dilihat table berikut: TABEL 1 Sarana Pendidikan di Desa Rantau Limau Manis dan Sekitarnya No Sarana Pendidikan Status Tahun Berdiri 1 2 3 4 5 Madrasah Diniyyah Sekolah Dasar (SD) II Sekolah Dasar (SD) I SLTP N 1 Tabir Ilir SLTP N 2 Tabir Ilir Sekolah Swasta Sekolah Negeri Sekolah Negeri Sekolah Negeri 1970-an 1980 1970-an 1990 1998 Sekolah Negeri Sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kecamatan Tabir Ilir. Selain itu, masyarakat desa ini merupakan masyarakat dengan pendapatan yang tertinggi di Kabupaten Merangin, dengan pendapatan perbulan berkisar enam juta rupiah tidak mungkin kurang mencukupi biaya pendidikan anak-anak mereka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor finansial dan sarana pendidikan bukan menjadi kendala minimnya anak-anak yang menempuh pendidikan yang lebih tinggi di desa ini. Minimnya pemahaman masyarakat akan pendidikan menjadi faktor dominan hingga membuat sektor krusial ini tidak diprioritaskan. Hal ini terbukti dengan banyak anak-anak usia sekolah yang tidak melanjutkan pendidikannya, padahal mereka berasal dari kalangan orang yang mampu. Meskipun demikian, kadang-kadang timbul juga kesadaran sebagian orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi di beragam tempat. Hal ini pada awalnya berhasil membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan lanjut, tetapi tak bertahan lama karena rasa rindu akan fasilitas di rumah dengan segala kemewahannya membuat mereka tak betah hingga akhirnya berhenti. Kenyataan seperti ini seringkali disiasati oleh orang tua dengan memindahkan sekolah anak-anaknya menjadi lebih dekat dengan rumahnya. Seiring dengan perputaran waktu yang silih berganti, belakangan banyak masyarakat desa ini kian tersadarkan akan arti penting pendidikan bagi anak-anak mereka. Kesadaran ini tumbuh seiring dengan terbukanya wawasan dan pengetahuan mereka mengenai dampak negatif bagi anak-anak mereka di tengah dunia yang makin kompetitif jika berpendidikan rendah. Mereka sadar bahwa di masa depan anak-anak tidak hanya cukup bermodalkan kekayaan saja, karena pendidikan juga sangat diperlukan. Setiap pagi dapat dijumpai lalu lalang anak-anak yang berangkat ke sekolah, baik ke Sekolah Dasar maupun ke sekolah lanjutan. Di siang hari, sehabis sekolah umum, kegiatan pendidikan dilanjutkan di sekolah agama, dalam hal ini adalah Madrasah Diniyyah. Secara kuantitas, angka masyarakat yang melanjutkan pendidikan terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Data statistik desa tahun 2005 mengungkapkan bahwa sebagian besar anak-anak usia sekolah telah bersekolah, bahkan mereka pun melanjutkan pendidikannya setelah tamat Sekolah Dasar. Sekolah lanjutan pun diserbu sehingga bangku sekolah lanjutan tak pernah kosong pada setiap tahunnya. Khusus sekolah lanjutan, di samping SLTP yang banyak diminati, juga terdapat pondok pesantren yang juga diserbu para lulusan sekolah dasar. Pesantren-pesantren yang dipilih tersebut berada di beragam tempat, umumnya yang berada dekat desa, tetapi ada juga yang sangat jauh, seperti di berbagai kabupaten di propinsi Jambi atau di Sumatera Selatan serta Sumatera Barat bahkan hingga ke pulau Jawa. Demikian pula halnya dengan jumlah keberlanjutan pendidikan ke perguruan tinggi yang secara kuantitas juga mengalami peningkatan. Hampir dipastikan bahwa setiap tahun terdapat generasi muda desa yang melanjutkan pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi yang ada di Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat, bahkan hingga ke pulau Jawa. 4. Kegiatan Perekonomian Dengan mengandalkan kekayaan alam yang berlimpah, sebagian besar masyarakat desa ini memilih pertanian sebagai usaha untuk menghidupi keluarga dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pertanian yang dimaksud adalah perkebunan. Usaha perkebunan yang memiliki skala besar, baik dalam kuantitas lahan maupun kualitas hasilnya, yang dipilih oleh masyarakat desa ini adalah perkebunan karet. Usaha ini dipilih karena di samping pengerjaannya relatif gampang, menurut tata cara mereka, juga karena lahan garapan yang tersedia sangat luas dan tidak dimiliki oleh siapapun yang berarti tidak perlu membeli serta hasil produksinya akan senantiasa ada setiap saat dan akan pasti menjamin masa depan yang lebih baik. Jika melihat apa yang ada di lapangan memang sangat realistis dan fantastis. Lahan perkebunan karet yang diusahakan masyarakat desa ini memang berada tidak jauh dari lokasi pemukiman mereka. Dahulu, seantoreo desa ini dikelilingi oleh hutan belantara yang masih perawan dan di sanalah masyarakat mengusahakan tanaman ini. Masyarakat tinggal datang ke hutan dan membuat batasan-batasannya dengan yang lain, kemudian ditebangi dan dibakar lalu ditanami karet di sela-sela padi yang juga turut ditanam. Luas arealnya pun terserah penggarapnya, sebatas kemampuan yang dimilikinya dan jika sudah demikian maka sudah sah lahan tersebut menjadi milik mereka. Maka tak mengherankan jika hampir sebagian besar masyarakat desa ini memiliki areal perkebunan karet yang menjadi tumpuan hidupnya. Bahkan data di pemerintahan desa menyebutkan angka 200.000 hektar perkebunan karet yang dimiliki oleh masyarakat desa ini dengan penghasilan berkisar 500 ton per bulan. Lahan perkebunan tersebar di wilayah sekitar desa dan desa-desa tetangga, bahkan hingga melampaui batas teritorial Kabupaten Merangin. Tanpa waktu yang relatif lama, karena hanya berkisar sekitar 10 tahun, maka pohon karet yang ditanam sudah dapat diproduksi getahnya untuk kemudian dijual. Satu hektar lahan dapat ditanami sekitar 2000 bibit pohon karet yang jika kelak saatnya diproduksi akan menghasilkan puluhan liter getah yang setelah dipadatkan akan menjadi puluhan kilogram karet. Jika dijual, maka hasil produksi yang sudah dipadatkan tersebut dapat terjual sekitar Rp. 9.000,-an per kilogramnya saat ini. Komoditas perkebunan lainnya yang juga diusahakan oleh masyarakat desa ini adalah kelapa sawit. Jenis usaha ini datang belakangan dalam masyarakat ini seiring dengan datangnya para transmigran dari Pulau Jawa yang banyak mengusahan komoditas ini. Meskipun demikian, perkebunan kelapa sawit masih menjadi komoditas ‘kelas dua’ yang diusahakan masyarakat desa ini. 5. Sistem Pemerintahan Saat penelitian ini dilakukan sistem pemerintahan yang berlaku di wilayah ini adalah pemerintahan desa yang dipegang oleh seorang kepala desa atau disini biasa disebut rio. Seorang kepala desa dipilih secara langsung oleh masyarakat melalui sebuah pemilihan yang diadakan oleh suatu panitia yang dibentuk. Calon-calon yang dipilih biasanya mengajukan diri secara pribadi dengan cara mendaftarkan diri pada panitia pemilihan dengan melengkapi persyaratan-persyaratan yang mesti dipenuhi. Bisa juga calon-calon walaupun tetap mengatasnamakan pribadi. Calon-calon kepala desa yang akan maju dalam pemilihan haruslah orang yang sudah dikenal segala kemampuannya oleh masyarakat, diutamakan yang berpendidikan dan biasanya berasal dari keluarga atau keturunan pendiri atau tokoh masyarakat desa ini. Secara umum syarat seorang Kepala Desa atau Rio adalah: a. Memiliki kacambah bako (ada keturunan Rio) galumbang bakat (menikah dengan orang yang ada keturunan Rio). b. Memiliki pengetahuan tentang hukum Islam dan hukum Adat. Dalam sejarah desa ini, jabatan kepala desa selalu dipegang oleh dua golongan yang ada di desa ini, yaitu kalangan ulama dan birokrat yang secara bergantian memegang tampuk pemerintahan desa ini, walaupun sebenarnya hal ini tanpa direncanakan sebelumnya. Dengan kategorisasi seperti ini, seringkali terjadi gesekan yang berupa riak-riak kecil di tengah masyarakat jika salah satu pihak tidak berhasil memenangkan pemilihan ditambah lagi jika diiringi kemudian adalah timbulnya rasa ketidakpuasan di kalangan tertentu hingga menghendaki pelengseran jabatan kepala desa. Bahkan, beberapa tahun sebelum era reformasi bergulir di negeri ini, Desa Rantau Limau Manis telah beberapa kali mengalami pergantian pucuk pimpinan yang bukan pada waktunya. Dalam melakukan tugasnya sehari-hari, seorang kepala desa dibantu oleh seorang Sekretaris Desa, Kepala-kepala Urusan (Pembangunan, Pemerintahan dan Budaya), disamping lembaga-lembaga lain yang dibentuk untuk mengurusi permasalahan khusus, seperti Lembaga Pengembangan Masyarakat (LPM) serta Karang Taruna. Meskipun demikian, desa ini sekarang merupakan pusat kota kecamatan atas pemekaran wilayah administrasi Kecamatan Tabir menjadi Kecamatan Tabir Ilir. Desa ini terbagi menjadi tiga wilayah pedusunan dan terdiri dari dua belas Rukun Tetangga (RT) yang masing-masing wilayah pedusunan dipimpin oleh seorang kepala dusun yang disini lazim disebut dengan Palimo, Mangku dan Pateh serta para ketua RT. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat tabel berikut ini: Tabel 2 Pembagian Wilayah Desa Rantau Limau Manis No Nama Pedusunan Cakupan Wilayah 1 2 3 Dusun Bukit Jung Dusun Muaro Manelang Dusun Simpang Limau Manis RT 01, 02 dan 03 RT 04 – RT 08 RT 09 – RT 12 Sumber: Buku Profil Desa Rantau Limau Manis 2002 6. Sistem Hukum Hukum yang berlaku dalam masyarakat desa Rantau Limau Manis adalah hukum adat, tentunya juga berlaku hukum negara, yang berasaskan adat basendi syara’, syara’ basendi Kitabullah. Ketaatan masyarakat terhadap hukum adat melebihi ketaatan terhadap hukum nasional maupun hukum Islam, walaupun 100% penduduknya beragama Islam. Sehingga orang akan takut melakukan kejahatan apabila diingatkan dengan ancaman adat, yaitu takut tautang. Adat adalah pegang pakai masyarakat di Desa Rantau Limau Manis sehari-hari, sesuai seloko adat kok jago baundo jago, kok tidoh baundo tidoh, kok bajalan baundo bajalan, kok duduk baundo dudok. Hukum adat dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pegang pakai sehari, artinya adat atau hukum adat merupakan landasan filosofis masyarakat dalam setiap kegiatannya. Walaupun demikian, hukum adat rasanya sulit untuk dipatuhi oleh masyarakat apabila tidak diimbangi dengan adanya pemangku adat yang menjadi pilar-pilar penegakan hukum adat. a. Pilar-pilar Hukum Adat dan Sistem Peradilan Pilar-pilar yang dimaksud adalah kepala desa, dalam masyarakat desa ini disebut Rio, sebagai pemimpin tertinggi yang disangga oleh para kepala dusun yang terdiri dari Palimo, Mangku dan Pateh. Disamping elemen-elemen yang telah disebutkan, ada satu lagi pilar adat yang paling penting dan merupakan pilar utama dalam setiap persidangan adat, yaitu Ninek Mamak Uhang Tuo nan Delapan, yang terdiri dari alim ulama, ninek mamak, tuo-tuo tengganai dan cehdik pandai yang ada di desa dengan jumlah semuanya delapan orang. Dalam setiap persidangan ketiga elemen penting inilah yang pada intinya melakukan kaji baco (investigasi, interogasi dan pemeriksaan) dan sisek siang (pengkajian pada setiap materi hukum adat) atas setiap perkara. Sedangkan putusan akhir akan dikeluarkan oleh Rio setelah mendengar serta memperhatikan semua keterangan, baik keterangan penggugat, tergugat, para saksi maupun hasil kaji baco dan sisek siang oleh ninek mamak Uhang Tuo nan Delapan, dan melihat bukti-bukti yang ada. Dalam hukum adat di desa ini juga mengenal proses beracara layaknya seperti dalam sistem-sistem hukum yang lainnya. Dimulai dengan penuntutan, persidangan sampai pada upaya hukum banding juga dikenal dalam hukum adat desa ini. b. Proses Persidangan Penuntutan dilakukan oleh pihak korban atau sanak saudaranya (waheh) dalam setiap kasus yang terjadi, baik perdata maupun pidana. Tuntutan atau gugatan diajukan kepada kepala dusun yaitu palimo, mangku atau pateh dengan membawa siheh sapanampan kapalok nan Duo Puloh (sirih satu piring dan kepala yang dua puluh), jika kasus yang terjadi selain dengan ancaman bangun. Namun jika perkara yang diajukan dengan ancaman bangun, maka siheh sapanampan dinaikkan kerumah Rio yang disertai dengan sebatang tombak, hal ini dinamakan meh ilang meh pangali (emas hilang emas (pula) sebagai penggali atau pengganti). Menaikkan siheh sapanampan dilakukan ke rumah pemangku adat tempat kejadian atau domisili penuntut, sesuai seloko adat yang mengatakan di mano anteng tapatah di situ aek ta caok, di mano tamilang dicacak di situ pisang tumboh. Setelah siheh sapanampan diterima berarti gugatan secara resmi diterima oleh pejabat peradilan adat, maka pemangku adat yang bersangkutan menetapkan sidang ninek mamak untuk sisek siang perkara tersebut. Selain itu, setelah penetapan waktu sidang pemangku adat itu juga menetapkan biaya sidang, yaitu makan minum ninek mamak selama sidang, yang biasanya berkisar dari pukul 20.00 sampai 00.00 WIB, yang harus dibayar oleh penggugat. Jika perkara yang diusut adalah sengketa harta benda, khususnya tanah, maka ongkos transportasi juga menjadi tanggungjawabnya. Dalam sidang adat semua pihak boleh mengemukakan pendapat, dimulai dari penuturan penggugat tentang kronologis kejadian, dilanjutkan dengan jawaban tergugat, mendengarkan keterangan saksi-saksi dan dilanjutkan dengan pengajuan bukti-bukti. Setelah itu baru ninek mamak, cerdik pandai dan tuo tangganai melakukan sisek siang perkara tersebut, setelah sisek siang sudah menemukan suatu kesimpulan maka ketua lembaga adat atau juga Rio mengeluarkan keputusan adat, yang melingkupi hutang adat yang harus dibayar dan kalo-kalo (jangka waktu daluarsa mengajukan banding) serta jangka waktu pembayaran utang adat (denda). Selama kalo-kalo itulah terdakwa dibolehkan memilih untuk menerima hasil putusan sidang atau mengajukan banding. Na kehoh la dijeneh, na kusut la diusai oleh sidang adat ninek mamak uhang tuo nan delapan, maka perkara telah selesai di tingkat desa. Kewajiban yang harus dilakukan lagi oleh yang menaikkan siheh sapanampan atau penggugat adalah menurunkannya lagi dari rumah pemangku adat, dalam menurunkan siheh sapanampan tadi adalah dengan membawa seekor ayam, beras satu talam (piring besar) dan kelapa setali (dua buah). Walupun perkara telah ada putusannya dengan kewajiban membayar denda bagi yang kalah, namun utang adat boleh tidak dibayar selama sidang pada tingkat banding. c. Upaya Hukum dan Hierarki Peradilan Sesuai dengan sifat hukum adat di Desa ini yang batakak naek bajinjang tuhun (bertakak naik berjenjang turun), maka di dalam hukum adatnya juga mengenal upaya hukum banding. Banding diajukan ke Lembaga Adat Bumi Muko-muko Caco Dirajo dan diteruskan pada tingkat Bumi Enam Puluh Sagalo Batin serta dilanjutkan pada Lembaga Adat Tali Undang Tambang Taliti, apabila belum selesai juga maka diteruskan di tingkat Lembaga Adat Bumi Pucuk Jambi Sembilan Lurah. Banding dikuatkan dengan seloko adat tangkup perkaro diselesai, idak tangkup perkaro di seragai (diterima pihak yang kalah perkara dianggap selesai, pihak yang kalah tidak terima keputusan bisa digoyahkan). Banding diajukan karena perkara yang telah diputuskan bukan merupakan kusut nan idak tausai (kusut yang tidak dirapikan) dan dado nyenyak dibao tidoh dado kenyang dibao makan (tidak nyenyak dibawa tidur, tidak kenyang dibawa makan). Adapun syarat pengajuan banding adalah dengan membawa keputusan Lembaga Adat Desa Rantau Limau Manis kerumah kepala Lembaga Adat Muko-muko Caco Dirajo dan seterusnya, dengan ketentuan salama masih berlaku kalo-kalo. Masa daluarsa berbeda pemberlakuannya antara perdata dan pidana, masa daluarsanya yaitu: a. Harta benda (perdata) selama 3 X 7 hari b. Sahi ado sahi banamo, sahi batepok talingo angat (sehari ada sehari mempunyai nama, sehari ditampar telinga hangat) atau pidana selama 1 X 7 hari Namun kalo-kalo ini tidak berlaku dengan baku, melainkan disesuaikan pula, kadang-kadang, oleh ninek mamak, sesuai seloko alah ikek dek buek, alah buek dek bakembuh. Jika tidak ada pernyataan banding dari pihak terdakwa, maka dianggap menerima keputusan. Sesuai seloko salesai idak saregai idak, tangkup jalo kabumi (selesai tidak mau banding juga tidak, telungkupkan jala kebumi). Jika keputusan ninek mamak pada tingkat Muko-muko Caco Dirajo belum juga bisa diterima, maka banding diajukan di tingkat ninek mamak Bumi 60 sagalo Batin, sesuai seloko umah gedang basarambi Aceh di Muaro Semayo, tempat ngantong daceng cino untuk nimbang salah benah dan behat ingan uhang 60 segalo batin. Begitu juga seterusnya sampai pada tingkat Lembaga Adat yang tertinggi yaitu ninek mamak Pucuk Jambi Sembilan Lurah. d. Adat Lembago (Aturan Penduduk Pribumi dan Pendatang) Adat lembago digunakan pada daerah yang beradat. Adakalanya adat nan dilambung tinggi lembago nan disintak tuhun (aturan untuk penduduk pribumi yang ditinggikan dan aturan untuk pendatang yang diringankan) dan adakalanya pula lembago nan dilambung tinggi adat nan disintak tuhun (aturan untuk penduduk pendatang yang ditinggikan dan aturan untuk penduduk asli yang diringankan) adat nan tumbuh dateh tumpak lembago nan tumbuh dateh tuang. Lembago adalah pembedaan status masyarakat antara pribumi atau bukan. Lembago terbagi kedalam empat kategori, yaitu : 1) Lembago Jati (Penduduk Asli) Lembago jati merupakan penduduk asli daerah tersebut, dari nenek moyang sampai kepada dia sendiri asli daerah tersebut. Berlaku adat nan dilambung tinggi lembago nan disintak tuhun. Hukumannya adalah yang paling berat di bandingkan dengan jenis penduduk yang lain, yaitu paling tinggi seekor kambing serba 20 dan serendah-rendahnya seekor ayam kain 4 kabung lengkap dengan salemak samanih (bumbu-bumbunya). Hal ini di berlakukan karena dia orang asli mustahil tidak mengetahui adat istiadat daerah sendiri 2) Lembago Tali atau pendatang yang menikah melalui perantara saudara angkat Merupakan perantauan yang telah mendapatkan induk semang dan punya ayah dan atau ibu angkat, lalu menikah dengan gadis desa tersebut melalui perantara orang tua angkat dan atau induk semangnya. Sesuai seloko, karno dibuek tali mako bungo naek kapalok (disebabkan oleh tali maka bunga naik kepala) 3) Lembago Tambang atau pendatang yang menikah dengan penduduk karena budi pekertinya. Adalah orang perantauan yang menetap di desa tersebut dan terbukti mempunyai perilaku yang baik, karena perilaku baiknya itulah maka dia dijodohkan dengan salah satu anak gadis di desa tersebut, tapi setelah menikah dia kembali ke daerah asalnya dengan membawa istrinya. Hal ini sesuai dengan seloko dagang di ayek nan batambatt dagang di ateh nan bapaut, dagang nan sakali lalu galeh nan sekali nempoh tapi dak ngundo cupak di luah gantang, dak manjang kuteng di ulu, dak pulo ngedang pasak dari tiang. Hal ini sesuai pula dengan pantun adat : Manuang di dusun baru menuang di dusun baru Jangan dilantak ka dengan besi jangan dilantak dengan besi Lantak dengan malio-lio lantak(kan saja) dengan lio-lio Kami dagang nan sakali lalu kami merantau sekali lalu Jangan dimasuk kadalam ati jangan dimasuk ke dalam hato Letak di luah kiro-kiro letak di luar (juga) kira-kira (pikir-pikir) Pisang meh diundo balayeh pisang emas dibawa berlayar Pisang lidi di dalam peti pisang lidi di dalam peti Mungkin Utang meh dapek dibayeh mungkin hutang emas dapat dibayar Kalu utang budi yo nak dibao mati kalau hutang budi dibawa mati 4) Lembago Tuang atau pendatang sebagai penambah jumlah penduduk Lembaga tuang berarti orang yang menetap di daerah itu hanya sebagai penambah jumlah masyarakat, baik dari segi ekonomisnya maupun dari segi sosial dan politik. Tipe ini mempunyai ciri-ciri harus tidak merupakan yang hanya menumpang mencari hidup, aleh tempatnyo bapijak sesaknyo nyalang batinggang (alas tempat berpijak sesaknya menjelang dia lepas bebas berdiri), dengan kata lain memang benar-benar mau menetap secara permanen di daerah ini. Sesuai pantun : Tinggi umput dek padi tinggi rumput dari padi Dapek mato baliong dapat mata beliung Untok panyebut setelah awak mati untuk penyebut setelah aku mati Dibuek anak cucong oleh anak cucu Hukuman pada lembago yang tiga tentang orang perantaauan berlaku lembago nan dilambung tinggi adat nan disintak tuhun, yaitu dengn denda tegoh sapo ninek mamak (tegur sapa nenek mamak) namanya, yaitu paling tinggi seekor kambing salemak samanih dan serendah-rendahnya seekor ayam salemak samanih, hal tersebut dinamakan kuah nan kuneng nasi nan puteh (kuah yang kuning nasi yang putih). Pemberian denda ini sesuai dengan seloko disapo antu demam disapo ninek mamak bautang (ditegur hantu demama, ditegur ninek mamak dihukum). Perlu dicatat, perbedaan hukuman di atas hanya berlaku bagi pelaku yang melakukan kesalahan yang ringan, sedangkan kesalahan berat disamakan yaitu adat nan dilambung tinggi lembago nan disintak tuhun alias dikembalikan pada aturan yang berlaku dalam empat nan diateh (empat yang di atas) dalam Pucuk Undang nan Delapan. Akan tetapi, walaupun kesalahan ringan sekalipun, jika residive (berulang kali) maka akan dikenakan hukuman yang seberat-beratanya, hal ini perlu ditegaskan oleh pemangku adat, karena perbuatan yang dilakukan berulang-ulang merupakan perbuatan mangacau negehi nan baradat nak ngehuh tepian nan babaso (mengacau atau mebuat keributan pada negeri atau daerah yang ada adatnya dan mau mengeruhkan tepian atau tempat mandi yang ada aturannya) e. Teliti dua belas Yang dimaksud dengan teliti dua belas adalah segala sesuatu peristiwa pelanggaran adat, baru dapat dikenakan sanksi hukum, bila ternyata salah satunya dari teliti tersebut atau dengan perkataan lain, berlakunya sanksi hukum kepada seseorang berdasarkan fakta, bukti dan kenyataan, “Mangaji diateh kitab”. Teliti dua belas dimaksud adalah : 1) Kalu ka aek adi riak galumbangnyo, artinya jika ke air ada gelombangnya 2) Kalu ka ateh ado landonya, artinya ada sesuatu yang rebah 3) Kali di ateh ado runutnyo, artinya jika di darat ada runut jalannya 4) Nampak garih-garihnyo, artinya kelihatan garis-garisnya 5) Ado lembam balunyo, artinya pada tubuh korban ada memarnya 6) Nampak takiek tikalnyo, artinya ada bekas kena senjata tajam 7) Ado puntung suluhnya, artinya ada puntung bekas alat untuk membakar 8) Ado tabung sayaknya, artinya ada alat makan bekas kena racun 9) Nyato dageng takuak, artinya kelihatan lukanya 10) Nyato tulang nan incong, artinya terbukti oleh ahli tulang bahwa ada tulang yang patah 11) Nyato tando buktinyo, artinya bukti suatu kejahatan telah ada 12) Ado buah nan batampuk bungo nan batangkai, arinya wanita yang telah dipinang orang, ada lelaki yang meminangnya. Kalau telah ada bukti-bukti seperti yang tersebut dalam teliti dua belas, maka berlakulah fatwa adat : “lah taserak jalo bakandul, tabentang pukat baja bejahing, mundur anjau manantik bundar tapak idak bisa lahi”

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • H. Sudirman  On Februari 21, 2011 at 3:57 pm

    Luar biasa, teruskan penelitian tentang adat istiadat Penduduk Rantau Limau manis, begitu membaca tulisan dik Salman, baru abang menyadari begitu tingginya nilai-nalai luhur yang terdapat pada adat orang Rt.Limau manis.
    Saran: Tolong untuk penulisan bahasa daerahnya perlu disempurnkan lagi. Adap beberapa kata yang seharusnya “menurut abang” ditulis dengan huruf U, tapi titulis dengan huru O. Terima kasih semoga bermanfaat.

    • salmantabir  On Februari 23, 2011 at 2:03 pm

      makasih banyak atas sarannya bang…
      nanti kalau ada lebih banyak waktu akan saya perbaiki dan tambahkan beberapa data tulisan tentang Rantau Limau Manis..
      saya juga lagi cari lebih banyak data tentang Rantau Limau Manis dan Tabir secara umum untuk bahan penyusunan Tesis..
      makasih atas kunjungannya..

  • sudirman  On November 28, 2011 at 6:55 am

    Assalamu’alaikum. abang kalau lagi ingat dusun pasti membaca sejarah RT.Limau Manis (tulisan dik Salman), kalau bisa tolong dirincikan lagi tentang kedudukan Palimo, Patih dan Mangkuj. Semoga bisa bermanffat bukan hanya untuk orang Desa Ratanu Liamau Manis saja, tapi juga untuk masyarakat secara umum. Wassalam

    • salmantabir  On Desember 1, 2011 at 4:27 am

      yo bang..insya Allah dalam waktu dekat akan awak tambahkan mengenai hukum adat Desa Rantau Limau Manis, agar bermanfaat untuk smuo..terimo kasih yo bang atas sarannyo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: