Dasar-dasar Pelaksanaan Hukum Adat

DASAR-DASAR PELAKSANAAN HUKUM ADAT

Disusun kembali oleh : Salman Sayuti, S.H.I.

Jambi merupakan daerah yang sebagian besar penduduknya berbahasa Melayu, seperti umumnya masyarakat Melayu di daerah lain, Masyarakat Jambi sangat kuat terpengaruh dengan hukum adat dalam interaksi mereka sehari-hari. Hukum adatnya dianggap berasal dari daerah Minangkabau di Propinsi Sumatera Barat, terlihat beberapa persamaan kata dan dasar hukum adat Jambi dan Minangkabau, namun pada penggunaannya jelas berbeda, ico pakai nan balain.

Dasar pelaksanaan hukum adat di Jambi terdiri dari beberapa bab aturan yang harus ditaati oleh masyarakat, yaitu Pucuk Undang, Induk Undang nan Delapan dan Anak Undang nan Duo Puluh.

  1. Pucuk Undang
    1. Titian Tereh Batanggo Batu (titian teras bertangga batu),1 yaitu hukum adat Jambi berdasarkan pada Al-Hadits Rasulullah (titian tereh) dan Al-Quran (batanggo batu).
    2. Cermin nan Idak Kabuh (cermin yang tidak kabur) sering juga disebut dengan serambi nan diturut (serambi yang diikuti), yaitu ketentuan-ketentuan yang sudah berlaku yang diangkat menjadi hukum, atau bisa juga disebut dengan yurisprudensi. Dasar ini dikuatkan dengan seloko adat baju bajait nan dipakai, basesap bajahami, batunggul parehsan, bapendam bakuburan.
    3. Lantak nan Idak Goyah (gubuk di atas sungai yang tidak goyah), maksudnya ialah adil dalam menentukan hukum, jujur, tidak pilih kasih dan ada persamaan dalam hukum. Asas ini dikuatkan dengan seloko adat, behuk di imbo disusukan, anak di pangku diletakkan. nan benah, benah jugo, jangan tibo di mato dipicengkan, tibo di pehut dikempeskan (monyet di hutan disusukan, anak di pangkuan diletakkan. Yang benar, benar juga, jangan sampai di mata dikedipkan, sampai di perut dikempeskan).
    4. Nan Idak Lapuk Keno Ujan, Idak Lekang Keno Paneh (yang tidak lapuk kena hujan, tidak keropos kena panas), yaitu berpegang pada kebenaran yang tidak berubah.
    5. Kato Saiyo (kata seiya, kesepakatan, mufakat), artinya setiap persoalan yang rumit untuk diselesaikan harus di selesaikan dengan pemufakatan dan hasilnya harus menjadi pegangan bersama. Asas ini dikuatkan pula dengan seloko adat, bulat aek dek pamuluh, bulat kato dek mufakat, bulat bolehlah digulengkan, pipih boleh dilayangkan, taampah samo kehing, tahendam samo basah (bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat, kalau bulat beleh digulingkan, kalau tipis boleh dilayangkan, terhampar sama kering, terendam sama basah).

  1. Induk Undang Nan Delapan
      1. Dago-dagi, yaitu kesalahan terhadap pemerintah dan membuat fitnah (provokasi) serta membuat kekacauan dalam negeri. Hal ini disebut dalam seloko dengan mangadah telun nan tinggi, malacak tebun nan menyenak (menengadah air terjun yang tinggi, mengganggu tawon yang menyengat), kalu luko duo pampeh, kalu mati duo bangun. Hukuman bagi pelaku kejahatan ini adalah bangun penuh yang dilipat duakan, yaitu seekor kerbau, delapan ratus (800) gantang beras, delapan ratus (800) buah kelapa, delapan kabung kain putih dan salemak samanih.
      2. Sumbang Salah, yaitu hal-hal yang menurut pendapat umum dipandang tidak baik atau tidak layak (sumbang), dan perbuatan yang sudah terang tidak baiknya (salah). Pelanggaran terhadap ketentuan ini dikenai hukuman denda sebesar-besarnya seekor ayam, satu gantang beras dan sebuah kelapa, dan setinggi-tingginya seekor kambing, empat puluh (40) gantang beras dan satu kabung kain. Sumbang salah terbagi menjadi tujuh (7) macam, yaitu:
        1. Sumbang pangimak (salah melihat), ialah memandang seseorang dengan cara yang agak tidak sopan, seperti memandang perempuan yang mengarah pada bagian tertentu.
        2. Sumbang bakato (salah berkata), seperti berkata cabul, mencaci maki atau berkata yang tidak senonoh.
        3. Sumbang kaduduk (salah duduk), seperti seorang lelaki yang duduk berdekatan dengan perempuan yang bukan istri atau muhrimnya, atau seorang tamu yang duduk didekat tiang tengah rumah yang didatanginya.
        4. Sumbang bajalan (salah berjalan), contohnya berjalan bersama dengan wanita yang bukan isteri atau muhrimnya tanpa keperluan yang jelas.
        5. Sumbang bujuk malindan tebing (salah bujuk-jenis ikan-mendekati tebing), yaitu suatu perbuatan yang melihat tepian mandi di sungai tanpa ada keperluan yang jelas, pelanggaran ini bisa dihukum berat apabila yang ada di tepian adalah perempuan.
        6. Sumbang barau maulak lantak (salah barau-jenis ikan-melalui gubuk di tengah air), ialah mandi secara berdekatan atau satu tepian lelaki dan perempuan pada waktu yang sama, sedangkan perempuan itu bukan istrinya atau muhrimnya.
        7. Sumbang kumbang manguncup bungo (salah kumbang mendatangi bunga), yaitu seorang lelaki mencium bayi yang sedang disusui di pangkuan ibunya.
      3. Samun Sakai, ialah perampokan yang disertai dengan pembunuhan (samun), dan perampasan harta saja (sakai). Hukuman dan pembagiannya ditetapkan di dalam Anak Undang nan Duo Belas.
      4. Upeh Racun, adalah perbuatan membunuh orang menggunakan racun sehingga korban mati seketika (upeh), atau mati secara perlahan (racun). Kejahatan ini diterangkan dengan seloko, bubok paku batabung sayak (bubuk paku bertabung atau bertenpatkan tempurung). Pelaku kejahatan ini dikenai hukuman bangun penuh dengan membayar seekor kerbau, empat ratus (400) gantang beras, empat ratus (400) buah kelapa, kain putih empat kabung dan salemak samanih.
      5. Tipu tepo, adalah tindakan merugikan orang lain dengan jalan berpura-pura jujur (tipu), atau dengan bujuk rayu (tepo). Pelakunya harus mengembalikan barang yang diambil dengan jalan penipuan dan membayar denda adat berupa seekor ayam, satu gantang beras dan sebuah kelapa.
      6. Maling Curi, adalah mengambil harta orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Jika dilakukan pada malam hari disebut maling dan jika pada siang hari disebut curi. Pelakunya harus mengembalikan semua barang yang dicuri, serta membayar denda adat berupa seekor ayam, satu gantang beras dan sebuah kelapa. Maling curi dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
        1. Cacak adalah mengambil milik orang lain yang melekat di badannya kemudian melarikan diri dan korban tidak sadar ketika itu (pencopetan).
        2. Rebut Rampeh ialah mengambil milik orang lain dengan jalan paksa dan melarikan diri (pemalakan).
        3. Maling bapangihit adalah pencurian yang dilakukan di rumah korban, dengan bantuan salah seorang isi rumah tersebut.
        4. Maling bakaadaan, yaitu pencurian yang didahului dengan pengamatan secara seksama situasi dan kondisi rumah, sehingga hasilnya mulus dan hamper tidak meninggalkan jejak, sesuai seloko adat lantai dak taateh, dinding dak tabebak, harto tepi dak ilang harto tengah nan ilang, bunta bayang-bayang (lantai tidak terangkat, dinding tidak terpisah, harta tepi tidak hilang harta tengah yang hilang, tidak ada bayangan). Bisa jadi pelaku pencurian jenis ini adalah orang dalam rumah itu sendiri atau tuan rumah sengaja menyembinyikan barangnya dengan maksud tertentu, kejadian ini bukan murni karena pencurian.
        5. Jarah bapaninjau (penjarahan mempunyai penyelidik), yaitu pencurian yang didahului dengan menyuruh seseorang untuk mengamati situasi dan kondisi rumah.
      7. Tikam Bunuh, adalah tindakan melukai orang lain dengan atau tanpa senjata (tikam), dan menghilangkan nyawa orang lain dengan senjata atau tidak disebut bunuh. Sanksi hukumannya adalah luko nan tali pampeh, mati nan tali bangun. Hukumannya ditetapkan dalam Anak Undang nan Duo Belas.
      8. Siuh Bakar, yaitu tindakan perusakan hak orang lain dengan cara pembakaran, jika rumah disebut siuh dan jika lahan pertanian atau perkebunan disebut bakar. Bagi pelaku perusakan ini dikenai kewajiban untuk mengganti semua kerugian korban.
  1. Anak Undang Nan Duo Belas
  1. Lembam Baluh Ditepung Tawar, maksudnya yaitu orang yang melukai fisik orang lain harus mengobatinya hingga sembuh.
  2. Luko Lukih Dipampeh, yaitu pembayaran denda terhadap kejahatan yang melukai fisik orang lain, terbagi menjadi tiga golongan:
    1. Luko Rendah, yaitu luka yang tidak terlalu parah dan dapat ditutupi dengan pakaian, pampeh-nya ialah seekor ayam, satu (1) gantang beras dan sebuah kelapa
    2. Luko Tinggi, yaitu luka pada bagian wajah atau tempat yang tidak tertutup pakaian dan tidak terlalu parah, didenda dengan seekor kambing, dua puluh (20) gantang beras dan dua puluh (20) buah kelapa.
    3. Lukih, digambarkan dengan pepatah adat antaro jangat dengan daging takuak, putuih uhat taincung tulang, dahah nan tapecik (antar kulit dengan daging terpisah, putus urat nadi patah tulang, darah yang terpercik). Hukumannya adalah setengah bangun, yaitu berupa pembayaran seekor kerbau yang disertai 100 gantang beras, 100 buah kelapa dan 100 kabung kain putih yang disertai dengan salemak samanih.
  3. Mati Dibangun, adalah hukuman bagi pelaku pembunuhan adalah bangun, yaitu pembayaran berupa seekor kerbau yang disertai dengan beras, kelapa, kain putih dan bumbu-bumbunya. Pembunuhan dibagi menjadi 3, yaitu:
    1. Cincang Marajo Cincang, yaitu pembunuhan sengaja. Dihukum dengan bangun penuh, yaitu pelaku atau keluarga pelaku (waheh) diwajibkan membayar seekor kerbau yang disertai dengan 400 gantang beras, 400 buah kelapa dan 400 kabung kain putih yang disertai dengan salemak samanih (bumbu-bumbu)
    2. Nyincang (pembunuhan seperti sengaja), diancam dengan hukuman imbang bangun, merupakan hukuman setengah dari bangun penuh di atas, yaitu dengan menyerahkan seekor kerbau yang disertai 200 gantang beras, 200 buah kelapa dan 200 kabung kain putih serta salemak samanih.
    3. tacincang (pembunuhan tidak sengaja), diancam dengan hukuman separo bangun, yaitu berupa pembayaran seekor kerbau yang disertai 100 gantang beras, 100 buah kelapa dan 100 kabung kain putih yang disertai dengan salemak samanih.
  4. Samun (perampokan), terbagi ke dalam empat kelompok, yaitu :
    1. Samun si Gajah Duman, yaitu perampokan di dalam hutan belantara. Kejahatan ini tidak ada hukumannya karena pelakunya tidak mungkin ditangkap, oleh karena itu dinamakan langau ijau (hijau), yaitu hukum rimba.
    2. Samun si menti Duman, yaitu perampokan yang terjadi di perbatasan pemukiman dengan hutan, hukuman pelaku perampokan ini adalah seekor kerbau, seratus (100) gantang beras, seratus (100) buah kelapa dan salemak samanih.
    3. Samun di adun duman, yaitu perampokan yang terjadi di perbatasan dua daerah atau desa. Pelakunya dihukum dengan seekor kerbau, seratus (100) gantang beras dan salemak samanih.
    4. Samun si kati duman, yaitu ditengah pemukiman penduduk. Hukumannya berlaku bangun bila korban meninggal dunia, pampeh bila korban luka-luka dan mengembalikan barang yang di rampok jika tidak menyebabkan luka dan kematian serta pelakunya diserahkan pada Raja.
  5. Salah makan diluahkan, salah bawo dibalikkan, salah pakai diluluskan (salah makan diganti, salah bawa dikembalikan, salah pakai dilepaskan), yaitu berupa kewajiban mengembalikan hak orang lain apabila menggunakannya, dan jika menyebabkan kerugian maka harus menggantinya.
  6. Utang kecik dilunasi, utang gedang diangsuh (hutang kecil dilunasi, hutang besar diangsur), yaitu kewajiban debitor untuk melunasi hutangnya pada kreditor dengan jalan dilunasi sekaligus atau diangsur.
  7. golok gadai, timbang lalu, artinya harta yang digadaikan atau yang dijadikan anggunan atas suatu hutang, akan menjadi hak yang memberi hutang, apabila telah lewat tenggat waktunya.
  8. Tegak mangintai lengang, dudok mangintai kelam, tegak duo bagandeng duo, salah bujang dengan gadih kawin (berdiri mengintai dengan maksud menunggu sepi, duduk menunggu gelap, berdiri dua bergandeng dua, salah remaja putra dan gadis adalah dinikahkan), adalah pergaulan di kalangan remaja yang meyalahi aturan agama dan adat, seperti berduaan di tempat sepi yang tidak ada muhrimnya, maka dinikahkan jika belum menikah dan masing-masing pihak dikenai denda seekor kambing, dua puluh gantang beras dan dua puluh buah kelapa.
  9. Mamekik mangentam tanah, mangulung lengan baju, manyingsing kaki seluar (memekik menghentam tanah, menggulung lengan baju, menyingsing kaki clana ke atas), yaitu menantang orang berkelahi, jika yang ditantang orang biasa dendanya seekor kambing dua puluh gantang beras dan jika yang ditantang adalah pejabat dendanya seekor kambing dan empat puluh gantang beras.
  10. Manempuh nan basawah, manjat nan rebak, yaitu memasuki daerah terlarang atau memasuki perkebunan orang lain yang dipagar tanpa izin. Pelaku pelanggaran ini dikenai hukuman seekor ayam, satu gantang beras dan sebuah kelapa.
  11. Maminang di ateh pinang, manawah di ateh tawah, yaitu meminang gadis yang telah dipinang orang lain dan menawar suatu barang dalam tawaran orang lain. Pelaku pelanggaran ini dihukum dengan denda seekor kambing dan dua puluh gantang beras.
  12. Bapaga siang, bakandang malam (berpagar siang, berkandang malam), yaitu hukum mengenai aturan tanaman dan hewan ternak, tanaman dipagari dan dijaga pemiliknya pada siang hari dan hewan ternak hendaknya dikurung dalam kandangnya pada malam hari. Jika hewan ternak merusak tanaman atau rumah dan pekarangannya pada malam hari, maka pemilik hewan tersebut berhak dimintai ganti rugi. Sebaliknya, jika hewan tersebut merusak sesuatu pada siang hari, maka tidak bisa dimintai ganti rugi akibat kerusakan tersebut.

>>Dari berbagai sumber, terutama wawancara dengan tokoh adat yang ada di Desa Rantau Limau Manis, Kecamatan Tabir Ilir Merangin.

1 Titian adalah jembatan yang terbuat dari sebatang pohon besar, tereh atau teras adalah bagian batang pohon yang paling keras yang terletak pada inti suatu batang pohon.

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: